Need Your Soma

Chapter 6:

.

.

.

.

.

Terima kasih buat para Reader yang sudah bersedia mampir

Apalagi bagi yang sudah bersedia coret-coret di Review

Author merasa bangga menjadi bagian dari keluarga sasusaku lovers

Maaf jika updatenya lama

Karena banyak kendala yang tidak terduga

Semoga chapter kali ini memuaskan

Mungkin di chapter kali ini tidak ada humornya

Tapi lebih ke romance dan galau-galau

Author sudah berusaha sekuat tenaga, sesuai kemapuan dan kapasitas yang author miliki

Follow twitter author ya!

reikasusan9924

Happy Reading, guys

.

.

.

.

.

Fict ini terinspirasi dari anime Seikon no Qwaser

Anime ecchi yang aku suka

WARNING RATED M

Khusus dewasa, anak kecil dilarang mampir

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Keheningan tercipta dalam perjalanan menuju ke Konoha. Entah apa yang terjadi sehingga para ninja ini mendadak pendiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing.

Naruto yang biasanya cerewet dan membuat onar. Sekarang terlihat pendiam seperti memikirkan sesuatu. Hinata sang kekasih menjadi sedih dan terus melirik pujaan hatinya yang ada disampingnya.

Ino yang merasa sungkan karena tidak memberi tahu suaminya tentang masalah yang menimpa Sakura yang notabene teman setim-nya dulu. Ino juga tahu jika Sai pernah memiliki rasa yang spesial kepada Sakura. Mungkin jika Ino dulu tidak agresif mendekati Sai, dia tidak akan bisa memiliki Sai saat ini.

Wajah murung Ino membuat Sai bingung. Ia tidak tahu apa yang membuat istri tercintanya ini menjadi murung. Apa ia melakukan kesalahan ketika di Suna kemarin, atau apa. Mungkin sesampainya dirumah, Sai akan langsung bertanya, tidak ada salahnya kali ini ia yang lebih agresif. Menurut buku yang ia baca, sesekali laki-laki harus agresif jika wanitanya tengah murung, karena wanita memang butuh perhatian lebih.

Lain halnya dengan dua sejoli yang tertinggal dibelakang Sasuke dan Sakura. Meski tadi pagi mereka terlihat akrab. Namun, merasakan atmosfer di sekitar mereka saat ini, membuat mereka berduang ikut diam. Terutama Sakura yang biasanya juga cerewet seperti Naruto mendadak bingung mau berkata apa. Ia merasa bersalah karena menyembunyikan hal ini dari sahabat-sahabatnya. Wajah muram Sakura membuat Sasuke terus memperhatikan Sakura. Sasuke yang memang pendiam merasa kecanggungan ini sangat tidak nyaman. Ia yang terbiasa dengan suara berisik Sakura dan Naruto menjadi jengkel ketika dua orang itu mendadak bisu.

Sasuke terdengar mendengus berkali-kali.

.

.

.

.

.

Setelah semua anggota tim selesai melapor di kantor hokage, semua pamit pulang untuk beristirahat.

Sasuke terlihat masih didalam ruang Kakashi. Kakashi tahu jika ada sesuatu yang penting yang ingin dibicarakan Sasuke.

"Apa yang ingin kau bicarakan? Cepat katakan?" ujar Kakashi setelah semua yang ada diruangan tersebut keluar, tertinggal Sasuke dan Kakashi. Kakashi sangat mengerti Sasuke, karena Sasuke sudah ia anggap seperti anaknya sendiri.

"Dobe dan yang lainnya sudah tahu." Pernyataan Sasuke tidak membuat Kakashi terkejut. Ia sudah menduga, cepat atau lambat mulai banyak orang yang curiga dan mengetahui aib yang didapat oleh Sasuke.

Kakashi miris kenapa harus selalu Sasuke. Ia merasa kasihan, karena sudah banyak cobaan dan penderitaan yang Sasuke rasakan dari ia kecil. Hujatan dan tatapan dingin dari masyarakat kepada Sasuke. Ia tidak tega kalau Sasuke akan mendapat hujatan itu lagi jika masyarakat tahu aib ini. Apalagi masalah ini melibatkan satu kunoichi terbaik konoha, Haruno Sakura.

"Baiklah, aku akan segera bicara pada Nona Tsunade untuk mempercepat program penyembuhanmu! Berusahalah untuk mengendalikan nafsumu, kau sudah kecolongan satu kali" Kakashi berhenti sejenak sebelum melanjutkan pembicaraannya "Aku harap kau lebih bisa mengendalikannya"

"Hn" gumaman Sasuke sambil berlalu meninggalkan ruangan hokage.

.

.

.

.

.

.

Sedangkan ditempat lain, tepatnya di Sunagakure. Terlihat seorang pria tampan dan penuh kharisma dan aura maskulin tengah termenung sambil memandang langit senja diruangan kerjanya. Pria bersurai merah dan bertato Ai dijidatnya itu tengah sendirian sambil memikirkan sesuatu.

Mari kira intip, apa gerangan yang menjadi alasan lamunan pria yang bernama Sabaku no Gaara itu, Sang Kazekage. Ternyata si pinky alias Haruno Sakura yang menjadi sumber kegalauan Kazekage Most Wanted kita ini. Gaara masih sangat sulit melupakan gadis musim seminya itu. Meski rasa itu baru tumbuh, namun terasa sangat memabukkan dan membuat dadanya sesak hanya karena melihat Sakura dekat dengan Sasuke. Apalagi berita kepulangan Sasuke ke konoha yang seketika meruntuhkan harapannya untuk mendapatkan kunoichi kebanggaan Konoha itu.

Gaara masih sangat ingat bagaimana gadis itu menolak perasaannya dengan sopan. Ia tahu posisinya sebagai seorang Kazekage membuat kunoichi itu terlihat segan. Gaara tahu jika Sakura tidak bermaksud menyakiti hatinya, namun kenyataan bahwa wanita yang ia cintai masih mengharapkan orang lain meski orang itu masih belum memberi kepastian semakin mejauhkannya dari Sakura.

Namun setelah Gaara melihat langsung tatapan Sasuke kepada Sakura yang memancarkan cinta yang meluap-luap menariknya kepada kenyataan jika rasanya hanya angan dan semu belaka. Gaara merasa cinta yang ia berikan kepada Sakura, tidak sebanding dengan cinta yang Sasuke pancarkan kepada Sakura. Meski bungsu Uchiha tersebut tidak memperlihatkan secara gamblang, namun tetap akan terasa. Tidak mungkin ia menghalangi dua sejoli yang sedang dimabuk cinta itu. Sudah terlalu banyak rintangan dan penderitaan yang mereka rasakan, biarlah ia mengalah untuk kebahagiaan kedua orang ini. Mereka adalah sahabat terbaik dari Naruto, sahabatnya yang sudah ia anggap saudara. Mungkin suatu hari nanti, ia bisa menemukan pujaan hatinya.

.

.

.

.

.

Flash Back On

"Sakura" malam itu sangat tidak biasa, Kazekage Gaara mengajak Sakura jalan-jalan berdua. Sakura hanya mengira mungkin Gaara hanya kesepian selama di Konoha karena Naruto tengah pergi untuk menjalankan misi. Sedangkan Temari, pendampingnya ketika di Konoha tengah pergi keluar dengan Shikamaru. Jadi Sakura tidak mau memikirkan hal-hal negatif mengenai keanehan Gaara.

"Hm, ada apa Gaara-kun? Tumben mengajakku jalan-jalan?" wajah penasaran Sakura terlihat jelas. Gaara memaklumi karena langkahnya kali ini memang terbilang tidak biasa dan tergolong nekat. Gaara tahu desas desus yang beredar di konoha, jika kunoichi manis ini masih setia menunggu kepulangan Uchiha terakhir yang tengah melakukan perjalanan. Tidak ada salahnya mencoba. Mungkin hati Sakura akan tergerak melihat keseriusannya mencintai dan niatnya membahagiakan Sakura.

"Hn, Sakura" entah mengapa Gaara menjadi bingung mau mengatakan apa. Ia mendadak grogi dan tidak tahu harus memulai dari mana.

"Apa Gaara-kun, adakah yang ingin kau katakan padaku?" timpal Sakura.

Terdengar helaan nafas kasar dari Gaara. Ia menarik bahu Sakura agar menghadapnya.

Kedua manik jade itu bersiborok dan bertemu dengan emerald yang penuh dengan keteduhan. Mata itu kenapa tidak dari dulu ia menyadari pesona mata itu. Betapa bodohnya Sasuke yang sudah menyia-nyiakan pesona yang terlihat dari mata itu.

"Dengarkan aku dan jangan menyela ketika aku berbicara!" suara Gaara menginterupsi Sakura yang ada dihadapannya. Sakura terlihat tercenung akan wajah Gaara yang terlihat gusar seperti menahan sesuatu. Sakura menerka-nerka hal penting apa yang sampai membuat pria tanpa ekspresi ini menjadi tidak tenang.

Gaara menarik napas dalam-dalam "Jadilah kekasihku dan aku akan membahagiakanmu!"

Mata Sakura seketika terbelalak lebar mendengar kalimat itu terucap dari Kazekage dihadapannya. Kalimat itu terlihat mengalir indah dari bibir Gaara yang keluar dalam sekali hembusan nafas.

Tatapan memohon dan penuh harap dari Gaara membuat Sakura menjadi bingung. Ia masih tidak percaya akan pernyataan sang Kazekage. Ia sangat menghormati Gaara, ia juga menyayanginya sebagai seorang teman. Rasa sayang itu muncul karena rasa simpati terhadap hidup Gaara yang sangat berat. Rasa sayangnya seperti rasa sayang kepada Naruto yang juga memiliki hidup yang berat. Ia menghargai Gaara sebagai teman yang baik, tapi mengapa hal ini menjadi sulit.

Ia tidak ingin memberi harapan palsu kepada Gaara, apalagi sampai berbohong tentang hatinya yang masih tertambat kepada pria lain. Mata Sakura bergulir kekanan dan kekiri, ia tidak bisa fokus memandang kearah kedua bola mata jade milik Gaara. Meski tubuh Sakura masih dikunci Gaara untuk menghadapnya.

"A…ano… Go..gomen…ne…Gaara…kun" Sakura menunduk, air mata sudah siap meleleh. Ia tidak sanggup untuk mengucapkan kalimat yang akan menyakiti hati orang lain. Jika ia boleh memilih, ia lebih memilih hatinya saja yang tersakiti daripada harus menyakiti hati orang lain.

Mendengar pernyataan mulut Sakura, membuat Gaara menghela nafas sekali lagi. Kedua tangannya yang sebelumnya mengunci bahu Sakura, seketika turun sedikit menjauhkan diri dari Sakura.

"Hn, aku tahu kalau jawabanmu pasti ini. Kenapa kau terus saja mengharapkan dia, jelas-jelas dia selalu mencampakkanmu" Gaara memulai rencana keduanya, ia akan sedikit memprovokasi Sakura untuk melihat kenyataan jika ada pria yang jelas-jelas mengharapkannya.

"Ano, aku tidak tahu. Tapi hatiku tidak bisa mengabaikan dirinya meski ia terus menyakitiku" Sakura tahu siapa yang dimaksut Gaara dengan sebutan dia. Siapa lagi pria yang selalu mencampakkannya kalau bukan Uchiha Sasuke. Sakura menyangkal pernyataan Gaara dengan sedikit isakan yang mulai terdengar. Entah mengapa jika ada nama Sasuke yang terdengar di telinganya, ia menjadi sensitif dan ingin menangis.

"Sadarlah Sakura, Kau hanya akan menderita jika terus mengharapkannya! Pria brengsek seperti itu.." suara Gaara terdengar makin meninggi.

"AKU TIDAK PEDULI ! AKU AKAN TETAP MENUNGGU SASUKE-KUN!" Sakura ikut tersulut emosinya. Ia berteriak kearah Gaara sambil menangis meraung-raung "Hiks…hiks…hiks.."

"Baiklah. Maaf jika aku menyakitimu Sakura. Maaf…" Gaara yang hatinya terasa remuk dan sesak, pergi begitu saja tanpa memikirkan keadaan Sakura saat ini yang ia tinggalkan. Ia bingung, hati dan pikirannya kalut.

"Hiks..Hiks… setidaknya hibur aku. Bukan malah meninggalkanku begitu saja" Sakura terlihat merosot ketanah dan menangis dalam kesendirian. Biarlah ini ia anggap sebagai ujian kesungguhan hatinya untuk menunggu Gaara.

Keesokan harinya

Gaara beserta rombongan bersiap untuk pergi meninggalkan konoha. Meski dari rentetan ninja konoha yang ikut mengantar sampai gerbang konoha ada Sakura. Namun Gaara masih enggan untuk memandangnya. Mungkin hatinya masih terasa sakit karena penolakan Sakura tadi malam.

"Aku akan tetap mengharapkanmu Sakura" begitulah isi hati Gaara ketika ia melewati Sakura meski tanpa memadang gadis itu.

FLASH BACK OFF

.

.

.

.

Tidak hanya Gaara yang tengah melamun dimalam itu, Sakura sepulang dari Kantor Hokage langsung mengurung diri didalam kamar, tepatnya kamar Sasuke. Dia memandangi bulan yang tengah merajai langit dengan sinarnya. Ia masih merasa sedih dengan semua rentetan kejadian akhir-akhir ini. Memang benar ia mengharapkan bisa dekat dengan Sasuke, namun bukan dengan cara seperti ini. Ia mulai tersadar dan memikirkan hal-hal negatif tentang Sasuke. Mulai dari Sasuke yang ingin segera sembuh yang diartikan Sakura bahwa Sasuke tidak ingin lama-lama dekat dan bergantung pada gadis jelek sepertinya. Ia berpikir jika Sasuke sudah pulih, ia akan ditinggalkan dan Sasuke tidak akan melihatnya lagi.

Segala pikiran buruk itu, benar-benar meracuni Sakura dan membuatnya menangis ditepi jendela kamar Sasuke.

.

.

.

Lain halnya dengan Sasuke yang juga tengah termenung, namun ditepi jendela ruang tamunya. Ia juga tengah memandang langit dan tidak ada niatan untuk beranjak, apalagi pergi menuju kamarnya. Ia ingin memberi Sakura waktu untuk sendiri, ia merasa bahwa kedatangannya akan membuat suasana hati Sakura menjadi buruk. Sasuke berpikir bahwa Sakura sudah terlalu banyak berkorban untuk dirinya, sedangkan dirinya hanya bisa membuat sakura susah. Akan lebih baik jika ia bisa bersama orang lain yang lebih baik darinya, seperti Gaara mungkin. Namun egonya tidak pernah mengijinkan itu, ia sangat tidak rela jika Sakura menjadi milik orang lain.

Dan akhirnya sasuke memilih untuk tidur di sofa ruang tamu.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Akhirnya obat ini sudah selesai" ucap seseorang yang tengah memakai baju lap, ditemani 2 orang lainnya.

.

.

.

.

.

.

.

.

Hah, gomen-ne Minna-san

Ceritanya segini dulu

Terima Kasih sudah membaca

Mohon Review-nya, semoga bisa bantu memunculkan ide cerita selanjutnya

Bye-Bye